Jon K

Jasa, Konsultan IT, Travelling, Shop Online, Event Organizer, Etc.

Jon K

Jasa, Konsultan IT, Travelling, Shop Online, Event Organizer, Etc.

Jon K

Jasa, Konsultan IT, Travelling, Shop Online, Event Organizer, Etc.

Jon K

Jasa, Konsultan IT, Travelling, Shop Online, Event Organizer, Etc.

Jon K

Jasa, Konsultan IT, Travelling, Shop Online, Event Organizer, Etc.

Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011


Dalam rangka Anniversary 1th KFM, 26 Juni 2011

KFM mengadakan Family Gathering KFM dan lomba foto

Kategori Lomba Foto:

1. Snapshoot on the spot

2. Foto Model (disiapkan oleh KFM)

Yang akan dilaksanakan:

Hari : Minggu

Tanggal : 26 Juni 2011

Waktu : 10.00 s.d. selesai

Tempat : Taman Wisata Bukit Siguntang, Palembang

Info selengkapnya silakan lihat pamflet

Daftar diri anda dengan mencatatkan nama dan no HP pada catatan ini

FORMAT PENDAFTARAN: NAMA/NO.HP/SALAH SATU FUN GAMES

Kategori pemenang:

Juara 1,2,3 Lomba Lompat dalam karung

Juara 1,2,3 Lomba Makan Kerupuk

Juara 1,2,3 Lomba Bawa kelereng dalam Sendok

Juara 1,2,3 Lomba Foto Snapshoot on the spot tentang Fun Games

Juara 1,2,3 Lomba Foto Model

Salam,

Moderator KFM.




Daftarnya Klik Link Ini

KFM Maju Terus

Selasa, 03 Mei 2011

Melukis Dengan Cahaya







Cahaya dalam fotografi adalah unsur yang paling penting dan utama
untuk menciptakan sebuah gambar, image atau foto.

Fotografi sendiri berarti: menggambar dengan cahaya

Tanpa adanya cahaya kita bagai berada di ruang yang gelap gulita tanpa dapat melihat apapun juga.

Kita dapat melihat obyek, memfokuskan lensa kamera dan menekan rana merekam gambar kedalam film semata-mata karena adanya cahaya.

Cahaya memberikan informasi tentang struktur bentuk object yang akan difoto.

Apa yang kita lihat pada benda adalah akibat dari pantulan cahaya ke benda tersebut yang kita tangkap dengan mata.

Pencahayaan yang diatur dengan baik akan mampu memperlihatkan hasil yang berbentuk dua dimensi (foto) menjadi seakan tiga dimensi.

Cahaya dapat menambahkan mood atau rasa dalam sebuah karya foto sebagai contoh dalam semua film horor atau thriller..mahluk yang menyeramkan selalu diberi penyinaran dari bawah..sehingga penonton me 'rasa' seram.

Kemampuan seorang fotografer dalam mengatur dan menghitung pencahayaan akan menentukan kualitas gambar yang dihasilkan.

SIFAT DASAR CAHAYA

1. Cahaya dapat menembus
  • Cahaya dapat menembus bahan-bahan yang tidak padat seperti kain, kertas kalkir dan kaca sehingga kualitas kerasnya cahaya dapat dibuat lunak atau soft.

2. Cahaya dapat difokuskan
  • Cahaya dapat kita salurkan kearah mana kita kehendaki, dia dapat dikumpulkan dan difokuskan agar kuantitasnya lebih besar lagi. Sebagai contoh adalah sinar Matahari yang difokuskan oleh surya kanta atau kaca pembesar.

3. Cahaya dapat dipantulkan
  • Cahaya itu dapat pula kita belokan atau kita pantulkan dengan benda yang mempunya daya pantul yang tinggi seperti cermin, styrofoam, kertas perak dll yang lazim kita sebut dengan reflektor untuk menyinari bagian-bagian yang gelap.

4. Cahaya mempunyai warna
  • Semua sumber cahaya mempunyai warna atau umumnya kita sebut dengan suhu warna dalam hitungan derajat Kelvin dan dapat diukur dengan Kelvin Meter / Color Meter.

Walaupun tidak secara fisik memberikan efek yang sama dengan suhu panasnya api atau dinginnya es, secara psikologi warna dapat juga dikelompokan seperti contoh warna yang hangat (merah & kuning) dan dingin (biru & hijau).

Cahaya dari sang Suryapun mempunyai warna yang berbeda disepanjang hari

Pada pagi dan sore hari akan memberikan warm tone color atau warna yang hangat kekuning kuningan, maka dari itu pemotretan model di outdoor dianjurkan pada saat seperti ini.

Derajat Kelvin rata-rata pada siang hari adalah 5500K
  • Lilin 1800K
  • Bohlam 100watt 2850K
  • Bohlam 500watt 3200K
  • Fotoflood 3400K
  • Flash 5500- 5700K
  • Langit biru 10000-12000K

Mata manusia kurang peka akan perubahan warna cahaya tetapi film sangatlah peka oleh sebab itu film dibagi menjadi 2 macam atau jenis yaitu :

1. Film untuk Daylight
2. Film Type A dan Type B untuk Tungsten

Apabila pemakaian film tidak sesuai dengan peruntukannya, sebagai contoh film Type A untuk pemotretan dengan tungsten maka dibutuhkan filter koreksi untuk menormalkan kembali warna yang terekam.

STUDIO FOTO

Pada umumnya studio terbagi dalam beberapa jenis menurut kegunaan dan kategorinya.

Jenis foto studio yang paling banyak dimiliki oleh fotografer profesional adalah jenis studio untuk memotret benda atau dikenal sebagai still-life foto studio dan untuk memotret manusia atau kerennya disebut portrait studio.

Jenis studio lainnya yang khusus dibuat menurut subjek yang difotonya adalah studio untuk memotret mobil, food fotografi, fashion fotografi yang lebih luas ukurannya dari portrait fotografi dll.

Fungsi utama dari studio adalah untuk memberikan kemudahan dalam pengaturan cahaya serta subjek.

Satu-satunya cara adalah memisahkan subject kedalam ruang dengan penggunaan cahaya yang dapat dikontrol sesuai dengan kemauan kita

Hal ini adalah kebalikan dari pada apabila kita melakukan pemotretan diluar ruang dengan mengandalkan cahaya dan apa yang telah disediakan oleh Tuhan YME, kita tidak dapat mengontrol sang Matahari dan mengatur atau merubah keadaan alam sekitar sesuai dengan kehendak kita, melainkan kita harus melakukan kompromi dan menyesuaikan keinginan dengan keadaan

Tetapi ada juga yang disebut daylight studio atau studio yang menggunakan Matahari sebagai sumber pencahayaannya.

Walaupun kita tetap harus berkompromi dengan keadaan cahaya yang disediakan sang surya, kita masih tetap dapat melakukan pengontrolan terhadap cahaya dengan menggunakan reflektor dan penyaring sinar yang masuk dengan tetap menyediakan kemudahan dalam mengontrolan subjek yang hendak kita foto

SUMBER PENCAHAYAAN DALAM STUDIO

Sumber pencahayaan Studio ada 3 macam

1. Sinar Matahari yang masuk melalui jendela atau lazim disebut Window Lighting
  • Cahaya Matahari ini sebaiknya tidak langsung mengenai objek karena akan susah sekali mengontrol kontrasnya
2. Lampu Tungsten atau Fotoflood
  • Lampu tipe ini biasanya kita sebut dengan Continous Lighting atau cahaya yang bersinar secara terus-menerus. Keuntungannya akan lebih mudah pengaturannnya, apa yang kita lihat itu yang terekam kedalam film. Kerugiannya adalah : silau, panas dan berkecepatan lambat
3. Flash
  • Berbagai macam jenis flash banyak ditawarkan pasaran saat ini dari yang paling sederhana seperti elektronik flash (Canon speedlight, SB Nikon ,Metz, Nissin dll) hingga yang canggih seperti Broncolor, Visatec, Bowens, Hensel, Proflash, Electra, Multiblitz, Elinchrom dll

Bentuknya Flash juga beraneka ragam..
a. Camera Flash
  • Built-in flash, Flash yang ditaruh diatas kamera pada hotshoe dan/atau pada bracket seperti Metz CT 45,CT60 dll yang dihubungkan dengan kabel syncro ke terminal x sync kamera
b. Monoflash atau dikenal juga dengan Monoblok / Monolight
  • Jenis lampu ini adalah jenis yang paling sering digunakan dimana instrumen pengaturannya berada dalam satu body dan pemakaiannya tinggal dicolok ke stop kontak, biasanya lampu jenis ini dilengkapi dengan built in slave yaitu mata yang menangkap sinar flash dari lampu lain sehingga menyalakan flashnya

c. Flashhead dengan Powerpack / Generator
  • Alternative lain dari monoblok adalah Powerpack.

Lampu jenis ini terdiri dari dua bagian yaitu :
a. Flash Head sebagai sumber cahaya
b. Powerpack / Generator sebagai sumber daya
Flashhead hanya sebagai sumber cahaya sedangkan sumber daya terletak terpisah dan dihubungkan oleh kabel.

Karena itu bentuknya lebih kecil dari monoblok menjadikan lampu jenis ini lebih fleksibel serta mudah dalam pengaturan karena instrumen pengaturannya tidak terletak pada flashhead melainkan pada sumber dayanya yang dapat diletakan didekat fotografer
Satu Powerpack dapat menyediakan daya untuk dua hingga empat flash head, tergantung pada jenisnya dan besarnya daya yang dimiliki yaitu Joule atau Watt per-Second (WS)

Monoblok dan Flashhead ini mempunyai kelebihan dibandingkan saudara kecilnya Elektronik flash yaitu memiliki apa yang disebut dengan modelling light atau lampu penuntun yang fungsinya menuntun kita untuk dapat mengatur arah lampu dengan sebaik-baiknya.

Flash Jenis lainnya adalah :
d. Light Brush
  • Powerpack dengan ujung yang dapat diganti-ganti sehingga menghasilkan cahaya yang kecil dan digunakannya seperti kita menggunakan alat cat airbrush
e. Ringflash
  • Ditaruh seperti filterdidepan lensa efeknya bila diatur sedemikian rupa dapat memberi bayangan tipis disekeliling obyek. Biasanya flash ini dipakai untuk pemotretan mikro fotografi
f. Linear Flashtube
  • Flashtube yang berbentuk macam neon...panjang sering digunakan untuk mencahayai background

PENCAHAYAAN DI STUDIO

Standard pencahayaan dalam studio yang umum dipakai saat ini adalah elektronik flash menggantikan lampu continuous atau tungsten lighting

Keuntungan yang didapat dari Elektronik Flash adalah :

  1. Dingin tidak mengeluarkan panas dan cahaya silau secara terus menerus yang mengganggu
  2. Kecepatan Tinggi sekitar 1/100 hingga 1/500 second sehingga dapat membekukan gerak
  3. Karena suhu warna flash yang berkisar antara 5500K s/d 5700K maka sesuai dengan suhu warna Film Daylight yaitu 5500K

Hal diatas menggantikan kerugian Lampu Tungsten yang antara lain:

  1. Panas dan silau
  2. Slow atau harus menggunakan kecepatan yang lebih lambat untuk mendapatkan diafragma yang ideal atau DOF yang diinginkan
  3. Kebanyakan lampu ini mempunyai suhu sekitar 3200K-3400K dan untuk mendapatkan hasil warna yang normal dapat digunakan Type B Tungsten Film atau Type A film yang sedikit diatas suhu warna tungsten yaitu 3400K atau menggunakan filter koreksi didepan lensa atau sumber cahaya Tungsten itu sendiri

Keuntungan lain dari pada Elektronik Flash adalah karena bentuknya yang mungil serta suhu yang dingin tidak panas maka dapat dimasukan kedalam softbox atau aksesori tambahan lainnya yang beraneka ragam.

Tetapi lampu tungsten juga memiliki kelebihan khusus dibandingkan dengan Elektronik Flash, kelebihan lain itu adalah :

  1. Lampu Tungsten dapat merekam Motion Bur atau merekam gambar gerak yang blur atau istilah kerennya Streak Photography yang dapat digabungkan dengan flash untuk mendapatkan gambar yang tajam diakhir blur akibat gerakan tersebut.
  2. Mengumpulkan Quantitas jumlah cahaya yang ideal untuk mendapatkan DOF yang ideal pada pemotretan tertentu seperti Industrial Fotografi, dengan Tungsten kita dapat merekam ruang tajam gambar sesuai dengan diafragma yang kita butuhkan dengan cara mengatur atau menyesuaikan kecepatan rana.
Elektronik Flash dapat melakukan hal yang sama dengan cara Multiple Flashes atau dengan melepaskan Flash secara berulang kali dengan catatan

  • 1 x flash = normal eksposure contoh f/number 4
  • 2 x flashes = +1 stop f/5.6
  • 3 x flashes = +1½ stop f/6.7
  • 4 x flashes = +2 stop f/8
  • 6 x flashes = +2½ stop f/9.6
  • 8 x flashes = +3 stop f/11
  • 10x flashes = +31/3 stop f/12.5
  • 12x flashes = +3½ stop f/13.2
  • 14x flashes = +32/3 stop f/14.2
  • 16x flashes = +4 stop f/16
tetapi tetap saja akan mudah bila menggunakan Tungsten, tinggal menggunakan fasilitas AV, mengatur diafragma yang diinginkan dan speed akan otomatis menyesuaikan

Menentukan besarnya kekuatan Studio Flash (kecuali kamera flash) tidak dengan GN atau Guide Numbernya melainkan dengan Elektrikal Inputnya yaitu dengan Joule atau Watt per-Second (WS).

Maksudnya adalah kekuatan energi mentah yang dapat ditampung dalam unit, tergantung pada besarnya kapasitor dan voltase yang akhirnya akan dilepaskan menjadi energi cahaya dengan catatan tidak semuanya dapat dilepaskan menjadi cahaya karena adanya variable flashtube dan juga kebocoran.

Hal ini juga ada sangkut pautnya dengan aksesori yang dapat ditambahkan pada sumber cahaya ini seperti Softbox, Reflektor dan Payung Pantul

MENGUKUR PENCAHAYAAN STUDIO FLASH

Alat untuk mengukur kekuatan sinar atau menetukan bukaan diafragma yang dikeluarkan oleh lampu studio dengan berbagai macam aksesorinya hanya ada tiga macam yaitu dengan :

1. Flash Meter yaitu alat untuk mengukur diafragma yang dibutuhkan atau EV (Eksposure Value) dari Flash.

Ada 2 (dua) cara dalam membaca atau mengukur pencahayaan flash yaitu :

a. Incident Light Reading
Mengukur besarnya cahaya yang jatuh pada subjek dengan menggunakan kubah putih kecil yang terdapat pada flash meter dengan cara mengarahkannya kekamera dibagian yang ingin diukur

b. Reflected Light Reading
Mengukur besarnya cahaya yang direfleksikan oleh bagian tertentu pada subjek.
Alatnya bernama spot meter cara kerjanya hampir sama dengan lightmeter yang berada alam kamera hanya saja alat pada kamera tidak dapat mengukur kilatan cahaya.

2. Polaroid Film
Merupakan alat pengukur yang paling akurat dibandingkan Flash Meter tetapi masih menggunakan metode lama yaitu trial and error, semakin lama jam terbang seorang fotografer studio dia akan semakin dapat mengira eksposure yang pas dan semakin akrab sang fotografer dengan peralatan lightingnya semakin mudah dalam mengukur pencahayaan dengan tepat.

3. Dengan adanya kemajuan tehnologi digital, maka kamera digital pun bisa menjadi cara yang akurat untuk membaca pencahayaan flash, sama halnya seperti film Polaroid.

Berdasarkan sifat dasar cahaya, sumber cahaya studio seperti sinar Mentari, tungsten dan flash dapat kita

1. Lembutkan atau disaring agar sumber cahaya menjadi lebih lembut dan lebih melebar

Contohnya adalah SoftBox dengan ciri-ciri terbuat dari semacam kain campuran plastik dengan warna perak bagian dalamnya berfungsi untuk memantulkan/mengumpulkan cahaya dan hitam dibagian luarnya dan terdapat lapisan transparan didepannya yang berfungsi untuk melunakan cahaya yang keluar. Rangkanya terbuat dari aluminium dan mudah dibongkar pasang dalam waktu singkat

Jenis-jenis Soft Box menurut bentuknya:
a. Striplight dengan ukuran perbandingan panjang dan lebar berkisar antara 3 :15 dengan fungsi untuk memperoleh refleksi garis yang sempit tetapi memanjang pada pemotretan benda-benda yang mengkilat
b. Persegi panjang / rectangle lite
c. Bujur sangkar
d. Oktalite persegi delapan

2. Konsentrasikan atau diarahkan agar sumber cahaya dapat bertambah intensitas, kontras, mudah diarahkan dan tajam
Contohnya antara lain
a. Standard reflektor yang berbentuk semacam panci dengan dasar yang bolong dan biasanya adalah perlengkapan standard studio flash
b. Barndoor yang berfungsi untuk menyekat / menghalangi arah cahaya lampu agar tidak jatuh kebidang yang tidak diinginkan, bentuknya lembaran hitam dipasang fleksibel seperti daun pintu kandang (barndoor) di kiri dan kanan atau juga atas dan bawah standard reflektor
c. Cone / Snot

3. Pantulkan keberbagai bidang yang memantul, ini adalah alternatif lain untuk mendapatkan cahaya yang lebih besar dan lebih lembut tetapi dengan intensitas kekuatan yang lebih kecil dibandingkan dengan disaring
Contohnya adalah :
a. Styrofoam
b. Langit-langit / plafon rumah
c. Payung pantul dengan bermacam-macam warna dasar (emas, perak dan putih)
d. Bahan yang dibuat khusus untuk reflektor seperti Photoflex Lite Disc dll

Untuk menambahkan dan mengurangi Intensitas atau kekuatan cahaya ada 3 (tiga) cara yang dapat dilakukan, yaitu :

  1. Menaikan atau menurunkan kekuatan atau output power dari sumber cahaya
  2. Menggeser, mendekatkan atau menjauhkan sumber cahaya dengan obyek
  3. Menambahkan lensa pada sumber cahaya untuk memfokuskan kekuatan cahaya (optical snoot) atau filter/gel ND (netral Density) peredam sinar didepan sumber cahaya

Hal dibawah ini akan mempengaruhi bukaan diafragma dan kontras cahaya

  1. Semakin besar luas sumber cahaya terhadap obyek maka semakin rendah kontras cahaya yang dihasilkan, bayangan akan menjadi lembut.
  2. Semakin dekat sumber cahaya ke obyek semakin besar kontras permukaan obyek yang terdekat dengan yang terjauh dari sumber cahaya dan semakin jauh jarak sumber cahaya ke obyek semakin rendah kontras perbedaan obyek yang tercahayai khususnya pada obyek yang mempunyai kedalaman dimensi

Kesimpulannya:
Membuat Studio bagi pemula tidaklah membutuhkan biaya yang mahal..

Kita dapat membuat studio dengan modal yang udah ada seperti ruangan
yang mempunyai jendela dirumah ditambah alat untuk memantulkan cahaya dan BG (background) yang bisa dari kain atau sprei...

Atau dengan bohlam lampu 250 watt dengan kombinasi penutup, pengarah atau pemantul sinar seperti diatas.

Atau dengan elektronik flash yang dipantulkan keatas atau tembok samping maupun belakang dengan catatan tembok harus berwarna putih dan memperhitungkan GN flashnya

Be creative lah!


Pendapat umum menyatakan bahwa Fotografi adalah hobi yang mahal, mulai dari peralatan hingga biaya produksi untuk mendapatkan hasil selembar cetakan foto, saya yakin semua orang diruangan ini menyetujuinya

Untuk mendapatkan hasil karya fotografi yang baik, seorang fotografer harus dapat menguasai tehnik foto atau ketrampilan tehnik yang dapat dipelajari melalui sekolah maupun seminar atau workshop serupa ini

Tetapi untuk mendapatkan hasil karya yang sempurna yang dapat dibanggakan tidaklah dijamin oleh pengetahuan atau kepintaran dalam hal tehnik yang dikuasai oleh sang fotografer atau dengan kata lain, meskipun masalah tehnis merupakan ketrampilan atau pengetahuan dasar untuk mendapatkan suatu karya fotografi yang baik, tetapi hal tersebut tidak akan pernah bisa menghasilkan karya-karya foto yang gemilang tanpa dipadukan dengan kecermatan pengamatan, kepekaan perasaan dan ketajaman intuisi atau naluri serta mampu menjunjung tinggi etika profesi

Jadi dengan tidak menguasai sama sekali tehnik fotografi, fotografer benar-benar menggunakan perasaannya dalam membuat komposisi kemudian untuk urusan tehnisnya dia menggunakan metoda trial and error alias mencoba berbagai macam kombinasi kecepatan dan diafragma yang istilah fotografinya adalah bracketing

Satu yang menonjol dalam dunia fotografi saat ini adalah banyaknya hasil foto tetapi mengandung sedikit ‘jiwa’. Dengan makin canggihnya tehnologi fotografi yang mempermudah pemakaiannya orang akan lebih mengadu kecanggihan alat dan berlomba memiliki kamera yang canggih dari pada menghasilkan sebuah foto yang ber’isi’

Manusia memang makin pandai menciptakan alat bantu. Namun, bagaimanapun juga apa yang lahir dari otak tidaklah bisa disamai dengan alat buatan manusia

Ciri khas bukanlah suatu keahlian yang dapat dibeli maupun dipelajari tetapi merupakan bakat yang dapat diasah dan dikembangkan dalam diri

Kita harus mau dan mampu melihat dengan mata hati, mempertajam intuisi dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, serta mengikuti dorongan naluri seni yang mengalir bebas tanpa beban maka niscaya kita akan mampu menciptakan suatu karya foto yang ‘kental’ dengan personal touch

Tehnik Pencahayaan Portrait Klasik

Sudah menjadi pendapat umum bahwa foto yang disebut dengan potret/portrait adalah foto dengan manusia sebagai objeknya dan manusia yang berada didalam sebuah potret mempunyai perbedaan gaya dan karakter satu dengan lainnya.

Potret dalam bentuk nuansa klasik mempunyai perbedaan dalam pengambilannya. Sebuah potret klasik bukanlah foto yang candid atau yang diambil seadanya, melainkan sebuah hasil foto yang diatur sedemikian rupa pose dan komposisinya menurut kaidah dan disiplin fotografi potret yang telah berabad-abad di wariskan.

Tujuan dasar seorang tukang potret atau portraitist (portrait artist) adalah menonjolkan karakter dan membuat ideal subjeknya. Hasil potret yang baik tidak hanya menunjukan karakter dari subjek tetapi juga menonjolkan ke’cantikan’ atau ke’gantengan’ yang dimilikinya.

Lebih dari itu tampilan dari subjek dalam foto harus tampak tidak membosankan dan enak dilihat selamanya.

Semuanya itu merupakan suatu tantangan yang harus diatasi bagi seorang portraitist untuk dapat mencapai kesuksesan

Karena sebuah hasil karya foto yang dapat disebut sempurna terdiri dari berbagai macam hal-hal yang tidak dapat diukur dan bersifat relatif, maka untuk menghasilkan karya tersebut seorang portraitist dapat mengandalkan disiplin dan tehnik yang telah terbukti selama berabad-abad yang diantaranya adalah :

1. Elemen cahaya atau pencahayaan
2. Posing atau gaya
3. Komposisi
dan yang paling penting diantara ketiganya adalah elemen cahaya

Walaupun posisi angle kamera, pose dan ekspresi memegang peranan yang tak kalah pentingnya, pencahayaan adalah alat yang paling fleksibel.

Dengan pencahayaan yang tepat anda dapat merubah penampilan orang yang gemuk menjadi lebih kurus, orang yang lemah menjadi perkasa dan orang yang tua menjadi tampak lebih muda. Dengan cahaya yang cukup anda dapat menciptakan ilusi tiga dimensi diatas bidang yang rata. Pencahayaan yang diatur dengan hati-hati dengan rasio yang tepat menciptakan penampakan yang seakan membuat hasil potret menjadi terlihat hidup, ilusi yang membuat gambar dua dimensi seakan terlihat tiga dimensi.

Pencahayaan Dasar
Dibutuhkan 4 (empat) sumber pencahayaan dasar atau tradisional yang dapat dibedakan menurut fungsinya yaitu :
1. Key atau Mainlight
2. Fill light
3. Hairlight
4. Background light
Kadangkala lampu tambahan atau lampu kelima dipakai terutama untuk memotret seorang pria, lampu kelima itu disebut dengan:
5. Kicker

Semua pencahayaan potret mencontoh dan mengimitasikan sinar mentari yang dapat kita cermati secara alami.

The Key light, seperti halnya sinar mentari, adalah sumber cahaya yang memberikan penampakan bentuk dari subjek sedangkan pencahayaan lainnya hanya bersifat membantu melengkapi key light. Seperti layaknya sang surya, mainlight tidak pernah diletakan dibawah level mata, selalu terletak diatas wajah atau kepala dapat terletak dikiri atau kanan kamera.

Mainlight ini juga menciptakan apa yang disebut dengan catchligts di bola mata subjek.
Catchlights ini adalah pantulan dari sumber cahaya yang seharusnya tampak pada iris bagian hitam bola mata subjek dengan letak agak keatas tergantung dari pengaturan sumber cahayanya

Keylight biasanya adalah sumber cahaya yang lembut dan diatur tidak langsung terarah ketengah-tengah muka melainkan hanya menyerempet wajah subjek.
Apabila inti cahaya langsung mengarah ketengah subjek maka kulitnya akan cendrung oversaturated dan akibatnya seluruh foto akan tampak over

Fill light diletakan disamping dan dekat dengan kamera pada posisi yang berlawanan dengan mainlight. Hal ini untuk menerangi bayangan yang ditimbulkan oleh key atau mainlight, letaknya yang dekat dengan kamera dimaksudkan untuk mencegah timbulnya bayangan yang kedua. Letaknya hampir sejajar dengan kamera kecuali jika kamera diletakan pada posisi low angle.
Kadangkala sumber cahaya fill light ini digantikan reflektor dengan hasil yang tak kalah sempurna

Hair ligth adalah sumber cahaya tambahan yang bertugas menerangi bagian rambut dan terletak diatas kira-kira 45 derajat dari lens axis, berfungsi untuk memisahkan subjek dengan BG.
Dalam mengatur letak hairlight, kita harus berhati-hati agar tidak menyinari muka subjek dan lensa kamera karena akan menimbulkan flare

BG light berfungsi untuk menyinari BG agar subjek terlihat terpisah, sama seperti fungsi dari hairlight. BG light tidak boleh terlihat oleh kamera, harus tersembunyi baik dibelakang maupun disamping subjek

Kicker light adalah lampu tambahan yang biasanya dipakai untuk pemotretan pria agar terlihat lebih maskulin

Empat macam pola pencahayaan
1. Paramount lighting
2. Loop lighting
3. Rembrant lighting
4. Split lighting
adalah kombinasi sederhana dari perpaduan ke empat tipe sumber pencahayaan dasar.

Perbedaan pola pencahayaan tersebut adalah pada tata-letak sumber cahaya sehingga menimbulkan efek pencahayaan yang berbeda pada wajah

Pada Paramount lighting atau butterfly, sumber cahaya Mainlight dan Fill berada pada posisi yang sama hanya berbeda mainlight agak jauh diatas dan fill light dibawahnya.
Nama butterfly didapat dari bayangan dibawah hidung yang berbentuk seperti kupu-kupu

Nama Loop lighting didapat dari bayangan hidung yang membentuk lengkungan di pipi subjek yang dicahayai fill light, sedangkan mainlight terletak berlawanan disebelah kamera dan terletak sedikit agak jauh

Rembrant lighting berasal dari nama seorang pelukis maestro yang karya-karyanya kebanyakan menggunakan cahaya seperti ini yaitu dengan meletakan Keylight agak jauh dan lebih rendah dari loop lighting sehingga pada pipi subjek yang dicahayai oleh fill light terdapat bocoran cahaya berlian yaitu cahaya dari mainlight yang berbentuk segitiga terletak dipipi bagian atas subjek

Split light lebih mudah lagi yaitu setengah dari wajah tercahayai sedangkan setengahnya lagi sembunyi dalam bayangan.

Semoga bermanfaat

By David Dewantoro
_________________
Di atas langit masih ada langit

Minggu, 01 Mei 2011

Photo Keluarga Photographer Narsis di Pulau Kemarau

Photo Keluarga Besar Photographer Narsis di Pulau Kemarau.


Kamis, 07 April 2011

Lomba Photo KFM "Kartini Masa Kini"




KFM mengadakan lomba foto hunting yang bertemakan:

"Kartini Masa Kini"

Yang akan dilaksanakan:

Hari : Minggu

Tanggal : 17 April 2011

Waktu : 08.30 s.d. selesai

Tempat : Halaman Dewan Kesenian Palembang (Belakang Museum SMB II)


Info selengkapnya silakan lihat pamflet

Daftar diri anda dengan mencatatkan nama dan no HP pada catatan ini

Salam,

Moderator KFM.


Rundown acara:

No Waktu (WIB) Kegiatan

1.08.00-08.30 Persiapan oleh panitia

2.08.30-09.30 Registrasi ulang peserta dan pembagian nomor

3.09.30-10.00 Tehnical Meeting

4.10.00-14.00 Hunting Foto di Lokasi yang ditentukan (BKB, Pasar 16, RS. AK. Gani, Pasar Sekanak dan sekitarnya).

5.14.00-15.00 Pengumpulan File Foto

6.15.00-16.30 Penilaian Foto oleh Moderator KFM

7. 15.00-16.30 Peserta melakukan pemotretan MODEL KARTINI yang disiapkan oleh KFM (Bonus)

8. 16.30-17.30 Pengumuman dan Pembagian Hadiah

9. 17.30-18.00 Foto Bersama

10. 18.00 Selesai


Daftar di FACEBOOK Link ini :

DAFTAR SEKARANG

Trik Noise VS ISO

Ahmad Hari Tubagus
berbagi trik buat yg kurang suka motret menggunakan flash...

ada kalanya kita motret dalam minim cahaya,lalu kita mencoba menaikkan level ISO,..namun hasil yg kita dapat terlalu banyak noise,..dalam kasus ini banyak teman2 yg merasa kemampuan kameranya lah yg tidak mampu menekan hadirnya noise .dan timbul pertanyaan2"kok di ISO 400 sudah ada noise,apalagi ISO diatas 400 dst...dan timbulah rasa kecewa dengan kualitas kameranya.

apakah benar kameranya yg tak mampu ?....ternyata tidak !!...hal itu terjadi karna ada kesalahan pada saat kita menentukan eksposure value(matering)

mari kita kenali ,,kapan noisenya ada dan kenapa noisenya ada..?
noise akan terlihat ada,apabila eksposure nya terlalu under,atau dibagian2 yg under.(semakin tinggi level ISO,semakin jelas terlihat)
noise ada,karna tidak mampu nya eksposure value melayani apa yg dibutuhkan kepekaan ISO(kualitas ISO masing2 jenis kamera)

dulu saya sempat kecewa dengan kamera saya,karna di iso 400,sudah banyak sekali noise yg terlihat,dan mulai terpikir untuk mengganti kamera yg lebih baik lagi dalam menekan hadirnya noise,...
setelah saya analisa kenapa bisa ada noise,akhirnya saya menemukan jalan keluarnya,dan tetap exis menggunakan kamera itu ,sampai sekarang..

solusi yg saya ambil adalah,apabila saya menggunakan ISO tinggi(400 >)saya mengusahakan eksposure value nya berada di titik 0(standar),,,tidak over,tidak under
kalau dulu saya takut2 menggunakan ISO tinggi,tapi sampai sekarang saya malah sering menggunakan ISO 1000-1600,hasilnya lumayan,..noise yg terlihat sedikit sekali,walaupun masih ada,namun tidak mengganggu

btw kalau rekan2 FN'ers ada trik2 yg lain,dalam kasus menekan hadirnya noise...mohon share nya

(untuk hal diatas,semoga bermanfaat,,kalau boleh saya sebutkan,. jenis kamera yg dimaksud diatas: nikon D80)

salam fotografi

Istilah - Istilah dalam Fotografi

Istilah - Istilah dalam Fotografi




1. A

Singkatan dari Aperture Priority, mode pemotretan dengan lebar bukaan ditentukan oleh fotografer. Kamera akan menentukan shutter speed yang diperlukan agar foto memperoleh pencahayaan yang mencukupi.

2. A-DEPTH

Fitur yang memungkinkan fotografer untuk mengfatur agar gambar terekam tajam pada jarak tertentu. Pada kamera analog, kamera akan melakukan 2 kali pemotretan pada frame yang sama dengan bukaan aperture yang berbeda. Pada pemotretan ini subyek foto dituntut untuk tidak bergerak.

3. AE

Auto Exposure, pemotretan secara otomatis dengan setting ditentukan oleh kamera

4. AE-lock

Auto Exposure Lock, pemotretan secara otomatis dengan setting awal ditentukan oleh kamera dan disimpan untuk pemotretan berikutnya. AE-lock dapat mempercepat proses pemotretan karena kamera tidak perlu lagi mengatur setting baru pada frame-frame berikutnya.

5. AF

Auto Focus, fitur yang memungkinkan kamera melakukan fokus pada obyek tanpa campur tangan fotografer. Pada umumnya kamera akan mengambil fokus pada obyek yang berada di tengah frame.

6. AF-lock

Auto Focus Lock, fitur yang memungkinkan kamera melakukan fokus pada obyek tanpa campur tangan fotografer. Proses ini hanya dilakukan pada frame pertama dan selanjutnya kamera akan menggunakan jarak tersebut pada frame-frame berikutnya. Fitur ini berguna untuk mempercepat proses pemotretan berurutan, misalnya pada pemotretan sport/ olahraga

7. ASA

Singkatan dari American Standard Association yang digunakan sebagai ukuran kepekaan film. Istilah ini sudah jarang digunakan, organisasinya pun sudah berubah nama. Istilah yang lebih sering digunakan saat ini adalah ISO, nilai ASA sama dengan ISO. .

8. AUTO

Mode pemotretan cepat tanpa campur tangan fotografer. Kamera akan secara otomatis menentukan fokus dan setting pencahayaan.

9. Av (=A)

10. B

Bulb, pengaturan kecepatan tanpa batas waktu. Pada setting ini aperture akan tetap terbuka selama tombol shutter ditekan.

11. Background

Latar belakang, segala sesuatu yang ada di dalam frame dan jaraknya lebih jauh daripada obyek utama.

12. BG

Lihat Background.

13. Blue hour

Waktu senja hari ketika matahari sudah mulai terbenam, lampu-lampu penerangan sudah menyala, namun langit masih tampak biru. Kondisi ini biasanya hanya berlangsung 15-20 menit di Indonesia.

14. Blur

Kabur, samar, kondisi gambar yang tidak tertangkap dengan tajam. Blur akibat shake merupakan sesuatu yang dihindari oleh fotografer, namun blur juga merupakan cara untuk menonjolkan obyek utama

15. Bokeh

Merupakan istilah bahasa Jepang untuk blur. Istilah ini mengacu pada blur yang bernilai seni, bertujuan untuk mengisolasi & menonjolkan obyek utama. Bokeh diperoleh melalui:
(1) Penggunaan bukaan aperture lebar
(2) Menggunakan lensa tele dengan zoom terjauh
(3) Memberi jarak obyek utama dengan latar belakang yang cukup jauh

16. Bracketing

Pemotretan beberapa frame secara berurutan dengan kompensasi pencahayaan (exposure compensation) yang berbeda. Fitur ini diperlukan untuk membuat foto HDR (High Dynamic Range)

17. Buffer

Ruang memory pada kamera yang berfungsi untuk menyimpan data gambar sesaat sebelum ditampilkan atau disimpan ke storage media

18. Bulb

Lihat B.

19. Burst

Pemotretan berurutan atau terus menerus. Kamera akan mengambil gambar selama shutter ditekan, menghasilkan beberapa frame yang menunjukkan urutan aktivitas

20. Burst rate

Banyaknya frame yang bisa dihasilkan dalam 1 detik. Burst rate dapat berkisar dari 0.3 fps untuk kamera poket sederhana (= 1 frame setiap 3 detik) hingga 60 fps untuk kamera yang dirancang khusus. Kamera-kamera DSLR profesional memiliki burst rate 3 fps atau lebih.

Tips Photography

BEBERAPA TIPS FOTOGRAFI

Tips untuk fotografi outdoor...semoga bermanfaat.
1.IMAJINASI
Perkaya imajinasi anda. imajinasi dan ide adalah “ bahan mentah “ foto yang belum divisualkan. Perkayalah dengan menambah referensi visual, misal dengan sering mengapresiasikan karya - karya seni dalam bentuk apapun. Bukan semata - mata bakat yang menentukan keberhasilan memotret, tapi kekayaan imajinasi Anda.
2.TEORI DASAR
Jangan lupakan teori dasar fotografi. Seperti halnya cabang ilmu dan seni lain, fotografi menuntut inovasi dalam berkarya. Tetapi, kuasai dulu teori dasar memotret sebelum bereksplorasi dan bereksperimen dengan berbagai inovasi. Bolehlah teori itu kita pakai sebagai kerangkanya.
3.MENGANALISA
Analisalah foto-foto yang anda anggap bagus. Belajar fotografi paling simple adalah dengan menganalisa foto. Setelah menikmati sebuah foto yang sangat mengesankan, cobalah menganalisa. Kenapa foto ini “ Bagus “?...Apakah karena lighting-nya, momment-nya, ekspresi-nya, gestur-nya, atau angle-nya?. Kesimpulan yang kita dapat merupakan ilmu yang berharga.
4.PERALATAN
Kuasai hardware dan software fotografi yang anda miliki. Secanggih apapun alat yang anda miliki tak akan membantu menghasilkan karya gemilang, selama anda tidak menguasainya. Penguasaan hardware ( kamera,lensa, lighting, dll ) sangat membantu saat menerjemahkan imajinasi. Editing software bakal menyempurnakan hasilnya. Karena itu, Maksimalkan dulu yang anda punya.
5.WAKTU MEMOTRET
Pahami betul waktu yang tepat untuk memotret outdoor. Cuaca cerah memang ideal untuk memotret. Patokan kasar adalah bayangan diri kita ditanah masih lebih panjang dari tubuh, biasanya masih OK untuk mengambil gambar. ( 6.00-8.00 & 16.00-18.00 ). Jadi selain memikirkan komposisi dan angle, jatuhnya cahaya ke obyek, perhatikan pula background maupun foreground, agar gambar lebih dramatis dengan bagian terang dan gelap lebih terlihat.
6.LOKASI
Kuasai daerah yang akan kita potret. Mencari sudut terbaik di suatu tempat kadang tak bisa dengan sekali kunjungan. Apalagi, jika wilayahnya luas. Biasanya perlu beberapa kali survey untuk menemukan sudut yang cantik. Galilah informasi sebanyak-banyaknya.
7.JEBAKAN UNTUK MENGULANGI
Hindari memotret dengan ide dan sudut yang sudah biasa. Dorongan untuk “ mengulang “ atau “membuat tiruan” memang kuat, terlebih bila kita memiliki referensi foto yang mengesankan. Boleh saja karya anda ternyata lebih sempurna, Tapi idenya tidak orisinal lagi. Untuk menghindarinya, bekali diri dengan segudang ide dan jelajahi kemungkinan lain yang bisa dieksplorasi dari object dan lokasi yang sama.
8.OBYEK UTAMA
Pembagian “peran” dalam sebuah foto. Ibarat sebuah film, setiap object didalam foto harusnya mempunyai peran. Ada peran utama yang terlihat menonjol saat pertama kali melihat kita melihat foto, dan memang diposisikan untuk itu. Adapula peran pembantu dan figuran, yang tidak boleh lebih menonjol dari peran utama. Juga ada setting tempat, warna/tone untuk memperkuat mood. hal yang terpenting yang harus kita pahami adalah semua peran dan setting yang mendukung peran utama. Tidak ada yang berdiri sendiri. Inilah yang menjadikan foto kita terlihat compact.
9.FORMAT
Anggaplah foto akan dicetak dalam ukuran terbesar. Format file terbaik untuk memotret (di luar foto jurnalistik) adalah RAW. Dengan format ini, selain keleluasaan untuk mengolah lebih lanjut (White balance, Exposure, dll.) , kita dapat menghasilkan format TIFF yang lebih padat pikselnya, yang berguna untuk keperluan komersial (pesanan). Sekalipun memotret hanya untuk hoby, kita tak akan tahu jika suatu saat foto kita akan terpakai untuk keperluan komersial atau cetak besar.
10.PENGATURAN DI PHOTOSHOP
Editing untuk menyederhanakan foto. sebenarnya editing digunakan untuk menyederhanakan foto. Silahkan membuang atau mereduksi obyek yang tak punya peran atau yang tidak memperkuat peran obyek utama. Salah satu caranya dengan mengatur terang-gelap. Ada bagian yang seharusnya lebih terang dan ada sebagian yang sebaiknya lebih gelap. Dengan menu adjustment dan dodge/burn tool di Photoshop, hal ini bisa dengan mudah dilakukan. Mengatur warna pun penting. Padu-padan warna antara obyek utama dan background, misalnya, bisa diatur lagi hingga menjadi harmonis...

Memahami "White Balance" Pada Kamera Digital

Memahami "White Balance" Pada Kamera Digital

Sebuah benda berwarna putih akan tetap tampak putih di mata kita walau disinari cahaya kekuningan. Itu terjadi karena mata kita melakukan adaptasi, juga nalar kita membantu memberi tahu bahwa benda yang kita lihat berwarna putih. Namun, kalau benda berwarna putih itu disinari cahaya kekuningan lalu difoto, benda itu akan tampak berwarna kekuningan pada fotonya. Tidak putih lagi.

Hal itu terjadi karena kamera tidaklah berpikir. Dia hanya merekam apa adanya. Kalau putih akan dia rekam putih, dan kalau merah akan dia rekam merah. Kamera tidaklah peduli dari mana warna itu datang: apakah warna asli ataukah warna akibat cahaya yang datang.

Atas dasar inilah, dalam dunia fotografi digital dikenal adanya penyesuaian pada warna putih ini, yang dikenal dengan istilah white balance atau biasa disingkat WB. Penyesuaian ini dilakukan agar benda berwarna putih akan terekam putih dengan cahaya berwarna apa pun.

Keaslian warna sangat penting pada foto-foto yang membutuhkan akurasi warna seperti foto kain, lukisan, dan benda komersial lain.

Mengapa putih

Alasan mengapa warna putih yang dipilih sebagai dasar koreksi adalah karena hanya warna ini yang absolut pada perubahan. Diberi cahaya kuning dia akan jadi kuning dan seterusnya. Sedangkan warna lain, kalau diberi warna kuning, akan berubah jadi warna baru yang sangat tidak terukur. Masalah terukur ini jadi penting karena kita perlu tolok ukur asli untuk mengoreksi agar warna bisa kembali ke aslinya. Hanya warna putih yang akurat. Tak ada putih muda, putih tua, putih kekuningan, atau putih kehijauan. Putih ya putih, titik.

Dalam sebuah kamera digital, ada fungsi pengaturan WB ( white balance ). Pengaturan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan cahaya yang kita pakai. Kalau pengaturan benar, warna pada foto kita akan akurat.

Pada kamera amatir, pengaturan semata berdasarkan simbol-simbol. Pilihlah simbol matahari kalau cahaya yang menyinari foto kita adalah cahaya matahari. Pilihlah simbol lampu pijar kalau memang cahaya yang menyinari foto kita adalah cahaya dari lampu pijar, dan seterusnya.

Simbol-simbol lain adalah gambar neon untuk pencahayaan dengan lampu neon, gambar petir untuk pencahayaan dengan lampu kilat, gambar awan untuk pencahayaan pada cuaca berawan, serta gambar rumah yang sebagian tercahayai untuk foto di tempat teduh.

WB otomatis

Ada satu lagi pilihan, yaitu AWB (auto WB, atau WB otomatis) alias berdasarkan kesimpulan sang kamera. Hati-hati dengan pilihan AWB ini karena kamera bisa salah mengambil kesimpulan seperti terlihat pada Foto 2. Pada Foto 2A, cakram kuning terekam kuning pada AWB karena ada putih dan abu-abu yang jadi pembanding. Tapi manakala tidak ada pembanding alias kita memotret cakram kuning dalam jarak sangat dekat, cakram kuning itu akan direkam jadi putih oleh kamera yang diset AWB.

Pada kamera profesional, pengaturan WB bisa dilakukan dengan lebih akurat, yaitu dengan mengatur derajat Kelvin dari cahaya yang mencahayai foto kita. Cahaya matahari siang bersuhu sekitar 5.500 derajat Kelvin, cahaya neon sekitar 4.000 derajat Kelvin, cahaya lampu pijar sekitar 3.000 derajat Kelvin, dan seterusnya.

Kesalahan mengatur derajat Kelvin akan berpengaruh terhadap kesalahan warna pada foto kita. Misalnya kamera diset dengan 3.000 derajat Kelvin (lampu pijar), tapi dipakai memotret pada cahaya matahari, foto yang dihasilkan akan total berwarna kebiru-biruan.

Sebaliknya, kalau kamera diset untuk matahari (5.500 derajat Kelvin), tapi dipakai memotret dalam ruangan yang diterangi lampu pijar, foto yang dihasilkan akan kekuning-kuningan.

Maka, kalau foto kita kekuningan, artinya pengaturan derajat Kelvin kamera kita terlalu tinggi. Turunkanlah pengaturannya, misalnya dari matahari jadi neon, atau dari neon menjadi lampu pijar. Pada pengaturan profesional, kecilkan angka derajat Kelvinnya, misalnya dari 5.000 menjadi 3.000.

Demikian pula sebaliknya. Kalau foto kita kebiruan, ubahlah set kamera kita dari lampu pijar menjadi neon atau dari neon menjadi matahari. Dalam pengaturan profesional, naikkan angka derajat Kelvinnya, misalnya dari 3.000 menjadi 5.000.

Untuk fotografi panggung, pilihlah WB 5.500, alias sama dengan cahaya matahari, agar merah terekam merah dan biru terekam biru.

Pemotretan panggung memang umumnya permainan warna sehingga itu harus direkam apa adanya. Pemilihan WB 5.500 derajat Kelvin adalah titik pilihan agar semua rentang warna bisa terekam dengan baik.

Pada pemotretan pemandangan pagi, ada baiknya pengaturan sengaja dibuat salah. Cahaya pagi bersuhu sekitar 4.500 derajat Kelvin, maka kalau kamera diset ke cahaya matahari, hasil fotonya akan kekuningan. Suasana pagi terekam.

Tapi, untuk hasil yang lebih kuning lagi (kesan hangat), kamera bisa diset ke 6.000 atau bahkan 7.000 derajat Kelvin.